Hakekat Mencintai

Jumat, 19 Desember 2014



(Pencerahan Hati )
                                                            
Hiduplah seorang pria tampan bernama  dan seorang wanita cantik jelita dan sholeh bernama St. Reana (Ana). Abd. Rian adalah salah seorang aktivis dikampusnya (Poltek), terkenal sebagai seorang yang sangat cerdas dan rajin beribadah.
Sewaktu Ian berjalan dikoridor hendak kemesjid bersama temannya. Ia melihat seorang gadis yang cantik jelita yang membuat hatinya bergetar, bagai getaran gempa tsunami dilautan. Ian pun bertanya kepada temannya Yusuf . “Ian: Yusuf, tahukah engkau kawan siapakah gerangan gadis berkerudung merah di koridor tadi?. “Yusuf: Ia adalah salah sorang mahasiswi di kampus ini, Reana namanya. Teman-temannya memanggillya Ana. Ia merupakan mahasiswa yang paling cantik dijurusan ini, banyak pria yang jatu hati padanya. “Ian: antah apa gerangan yang membuat diriku tertarik padanya, yang pasti aku tertarik padanya bukan karena kecantikannya, tetapi ada sesuatu yang aku sendiri tidak mengetahuinya. “Yusuf: aku belum pernah melihat seorang aktivis yang jatuh cinta seperti saat ini. Ini merupakan sebuah keanehan bagiku.
Hari demi hari Ian lalui dengan perasaan gunda didalam dirinya, ia ingin menyapa gadis tersebut namun dirinya merasa tak sanggup. Datanglah serang kawannya bernama Aras, yang memperkenalkan Ian kepada Ana. Sewaktu mereka berhadapan wajah Ana terlihat memerah, seakan-akan seorang pangeran tampan yang datang kepadanya membawakan sekuntum bunga mawar kepadanya. Ana bertanya kepada dirinya, mungkin inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama, tak kuat perasaan hati ini mengungkapkannya.
Pada hari ke tiga setelah mereka bertemu Ian memutuskan untuk mengirim sepucuk surat cinta kepada Ana, yang berisikan seluruh ungkapan hatinya kepada Ana. Dengan wajah berserih Ana membaca kata demikata surat tersebut, seakan-akan inilah yang ia nanti. Dengan persaan bahagia ia membalas isi surat tersebut dengan puisi “ Tahukah engkua pengeranku, rasa cinta ku kepadamu bagai hamparan pasir sahara yang tak berujung, bagai dalamnya lautan yang tak terukur, seakan-akan perasaanku ini telah melebur dengan diri sang kekasih, cintaku ini tak dapat ku tuliskan walau lautan yang menjadi tintanya. Jiwa ini hanyut dalam perasaan cinta padamu ibarat sang ilahi yang datang kepadaku memberikan surganya pada hambanya”. Ian pun hanyut dalam buaian asmara setelah membaca isi puisi Ana. Ia memutuskan untuk menemui Ana dikampus, namun menurut keterangan teman Ana, bahwa sudah beberapa hari ini Ana tidak lagi datang dikampus. “Ian menjadi penasaran dan mencari tahu kenapa kekasihnya itu beberapa hari ini tidak lagi datang dikampus. Akhirnya ada salah seorang teman Ana memberi kabar kepada Ian bahwa sekarang ini Ana lagi dirawat dirumah sakit, kakinya menjadi lumpuh wajahnya menjadi rusak, sebelah tangannya tidak dapat berfungsi dengan baik dan sekarang ini dia lagi koma dirumah sakit akibat kecelakaan yang menimpanya sewaktu hendak menyeberang jalan raya beberapa hari yang lalu, ia ditabrak oleh sebuah mobil truk yang sedang melaju kencang.
Ian pun langsung mengucurkan air mata setelah mendengar berita tersebut dan segera kerumah sakit menjenguk gadis pujaannya itu. Dirumah sakit Ian sempat bertemu dan bercakap bersama Ana. Ian mengungkapkan semua isi hatinya langsung kepada Ana yang lagi koma bahwa ia mencintainya. Seketika itu pula Ana langsung tersadar dari komanya dan berkata “Ian apakah engkau masih mau mencintai gadis seperti aku ini, yang wajahnya telah menjadi buruk rupa, sebelah tangannya tidak dapat berfungsi lagi, dan kedua kakinya telah tiada. Aku ini bukan lagi seorang gadis yang dipuja oleh banyak pria tetapi sekarang ini aku adalah seorang gadis yang cacat dan buruk rupa. Apakah engkau masih ingin mencintaiku dalam keadaan seperti ini?. Ian berkata kepada Ana “Ana tahuka engkau bahwasanya cinta ku pada mu bukanlah cinta karena tetapi cinta ku ini pada mu adalah cinta walupun. Jadi walaupun wajah mu telah menjadi buruk rupa, tangan mu telah cacat sebelah, dan kedua buah kaki mu telah tiada, tak akan surut cinta ku ini pada mu. Ana pun tersenyum mendengar segala ucapan Ian seraya mengucap sukur kepada sang Ilahi bahwasanya masih ada seorang pria ciptaan seperti Ian yang masih setia kepadanya, tanpa melihat bahwa cinta itu bukanlah materi dan fisik saja. Anapun berdoa kepada Sang Ilahi “Ya Tuhan andai saja pria ini adalah jodoh ku, maka jadikan lah ia pendamping hidup ku di dunia ini, namun jikalu engkau telah ingin mengambil nyawa ini maka jadikanlah pria ini menjadi pendamping hidup ku disurga kelak, tak ada lagi yang berarti selain dia dan dirimu saat ini wahai kekasih sejatiku. Hanya kehampaan yang ku rasakaan saat ini, jiwa ini terasa bahagia melihat dirinya walupun aku telah tiada, biarkanlah aku menjadi angin yang berhembus di dalam hidupnya mendampingi dan menghantarnya menuju kebahagian, hanya inilaha satu- satunya wujud kesetian ku padanya wahai Tuhan. Anapun tersenyum manis kepada Ian. Ini merupakan senyuman Ana yang terakhir sebelum malaikat maut menjemputnya. Seketika itu suasana terasa hening seakan dunia ini tak berpenghuni lagi, hanya suara hembusan angin yang terdengar ditelinga Ian, seakan-akan angin tersebut ingin mengungkapakan cintanya kepada Ian yang sedang bersedih ditinggal kekasihnya. Angin tersebut senantiasa berbisik ditelinga Ian seakan menghibur sang kekasih. Ian pun berkata dalam hatinya ”Wahai Tuhan ku, aku tahu engkau sedang memperhatikan seorang pecinta yang ditinggalkan oleh sang kekasihnya, maka sampikanlah salam ku serta kecupan manis ini kepada Ana ku sayang dan sampikan lah lautan cinta ku padanya yang tak dapat ku sampikan di dunia ini, sesungguhnya engkau adalah sang pecinta yang sejati. Sembah sujutku hanya kepadumu serta salam dan salawat hanya kepada utusanMu yang telah mengajarkan ku tentang cinta “mahkluk sempurnaMu”.  
                                                               By: A.Z
Editor: Wirawan Yusuf, Abd. Aris, Insanul, Ucok

0 komentar:

Posting Komentar